Pergi untuk Pulang

Sumbawa Dulu

2006 lalu saya menginjakan kaki di pulau ini. Kala itu – tak pernah saya mengenal yang namanya pantai Indah nan mencuri hati saya – dan Mungkin, itu kali pertama saja pergi terlalu jauh dari rumah untuk satu tujuan  : mencari uang dan lari dari kebisingan kota.

Sumbawa kali pertama membuat tahjub hati saya – adakah dusta atas keindahan tempat, budaya, dan keramahan-tamaan tempat ini? Dalam hati saya bertanya. Saat itu saya tak bisa menjawabnya. Yang saya bisa lakukan dulu, hanya menikmati – saya menikmati ketika berkeliling sudut pantai dengan sepeda yang saya pinjam dari Boss, sambil bertelanjang dada menganyuknya. Bertejemur di pinggir pantai – sambil membawa bekal nasi bungkus daun pisang, dan sesekali berenang atau snorkling. Tak banyak aktivitas lain yang bisa saya lakukan kala itu.

Tapi keberadaan saya tak lama – hanya 6 bulan saya bisa bertahan. Jenuh melanda ? mungkin bukan jenuh – saya masih melihat peluang lain yang bisa saya raih. Saya masih mencari jawaban atas pertanyaan –pertanyaan lainya – tentang keindahan tempat lain, tentang kenyamana, tentang kebahagiaan dan banyak pertanyaan lain yang harus saya cari jawabannya sendiri.

Saya meninggalkan Sumbawa kala itu – meninggalkan kekecewaan teman-teman dekat, pantai indah, dan kesendirian yang bebas.

Saya mencari arah – saya berkeliling mencari jawaban – saya terlepas entah kemana…

 

Sumbawa kini

2017 sekarang –  saat dimana saya tetap disini. Rupanya, saya tak benar-benar meninggalkan Sumbawa – saya tetap berkunjung kembali ke Sumbawa. Pencarian atas pertanyaan saya satu persatu terjawab. Bahkan, sesering kini saya mengunjungi sumbawa. Yah,  Sumbawa adalah rumah kedua saya setelah Jakarta. Nyaris tiap bulan  dalam seminggu saya menghabiskan waktu di pulau ini. Bosan kah saya atas pantai yang sepi? – tidak jawabnya. Jenuhkah saya akan tempat ini? – tidak akan jawab saya.

Saat ini saya begitu menikmatinya –

Tak ada kata pergi untuk saya meninggalkan tempat ini, karena saya selalu kembali pulang ke sini.

Saya akan selalu berada disini, suatu saat nanti…

Saya yang berdosa…

Sehat ku bahagia dan sakit ku derita, ahh tadinya saya pikir dua hal itu adalah penentu kebahagiaan hidup. Tapi ternyata saya salah menganalisa kehidupan ini.
Sehat dan sakit saya adalah kebahagiaan saya. Kala sehat pastinya tiada nikmat yang terukur dan tergantikan oleh apa pun, sekalipun ukuran materi. Tapi di kala sakit pun demikian, nikmat yang tadinya saya dustakan, kini berbalik saya syukuri, bahkan saya ingin beribu kali mensyukurinya. 

Tak ada nikmat yang bisa saya bayarkan untuk mengantikan. Saya memang manusia bodoh, manusia berdosa yang tak perna berterimaksih kepada Nya. Saya tak pernah cukup, sekalipun beribu ucap syukur dan doa memang Tuhan tak perlu itu. 

Tuhan hanya ingin hambanya S A D A R, atas apa yang telah dinikmatinya adalah pemberian dari Nya. Tak perlu cashback tak perlu susah payah mengembalikan nikmat yang telah diberikan, karena Tuhan telah mengajarkan dengan cara-cara sederhana. Sekalipun itu derita, kemiskinan, kehilangan, kegagalan, kepedihan, bahkan penyakit sekalipun. Semua ini bentuk kasih dan sayang Nya kepada kita, SADARI saja keberadaannya. Nikmati apa yang diberi Nya, dengan begitu tak perlu kita bingung atas pertanyaan dan jawaban yang mendera.

Yap, saya sedang berdosa. Saya sedang di kasih nikmat Nya. Penyakit mendera tubuh saya yang saya pikir kuat, Kehilangan sesuatu momen bahagia yang perna saya miliki sesaat, dan banyak lagi. Namun, oleh keSADARan saya perlu berterimakasih, karena tanpa saya menyadarinya – Tuhan masih menyayangin saya sebagai hamba Nya. 

Tiada nikmat yang perlu saya dustakan, walau sepaket derita sekalipun. Karena terSADARkan atau tidak, Ini cara Tuhan mengikis dosa-dosa kita di dunia. Maka dengan sederhana saya bersyukur ; Terimasih kasih atas nikmat yang telah Engkau beri.

Nikmat mana yang kau ingkari !

Memang mau terus bahagia? Trus inginnya sehat terus, chur? Terus ngerasa surga dunia dan berharap sampai akhir? Duhhh jangan mimpi, ichur.Sudah lama tidak berbicara dengan hati kecil, terkadang Ia, si diri dalam tubuh ini yang tak tampak sebegitu sewot menghadapi hidup. Secara klau kita pikir, jiwa dan raga kan sudah satu paket. Sakitnya kita bakal barengan, begitu juga klau kita senang. Tapi sepertinya gak gitu deh… 

Hati kecil kita yang entah cocoknya kita sebut apa, punya pandangan hidup yang berbeda. Ia adalah best friend terbaik yang kita semua miliki. Untuk berjumpa dengannya butuh momen khusus dan pas. Tak setiap waktu kita bisa ketemu dan berbincang, tapi jangan dikira lain, justru Ia yang sangat setia menemani kita hidup.

Seketika kita sendiri, ia setia menemani. Muncul untuk menguatkan kita yang lemah. Yah kita kadang lupa keberadaannya jikalah kita senang. Tapi Ia tak akan merasa tersingkirkan dengan begitu. 

Untuk Ia, yang setia menguatkan hidup saya – terimakasih. 

Hello Hidup


Masih adakah hal baik disekitar kita?

Hidup ini piliah, kita tidak dituntut untuk menerima saja – seperti halnya keburukan dan kebaikan, yang menunggu mana yang seharusnya kita pilih dari diantara keduanya.

Karena terkadang untuk memilihpun kita kesulitan – bisa jadi kita hanya mengikuti. yah mengikuti apa yang dipilih banyak orang untuk dilakukan. Dan parahnya – orang lain yang memilih dengan alasan kebaikan belum tentu baik untuk kita yang mengikutinya.

Jadi alangkah baiknya – pilihan itu kita yang tentukan. karena mengikutinya tak ada jamin bahagia. Berbaiklah pada sekitar – bahagia membuat kita baik, dan kecewa membuat kita buruk. Konsisten pada jalan yang kita pilih salah satu alasan kebaikan yang kita terima.

Agar hidup lebih baik kita seharusnya tak perlu menentukan hasilnya – jalani saja. bila nanti kita kecewa pada hasilnya – toh itu kebaikan yang mungkin memiliki porsi yang lebih kecil dari keburukan, tinggal suatu waktu nanti kita bisa perbaiki untuk lebih baik lagi, lagi dan lagi.

Kita hidup tak bisa di atur

 

Ada banyak keingin dalam diri sesorang, bila anda ketahui hal itu, sangat memiliki banyak keinginan. karena belum tentu kita bisa menyujudkannya.

sialnya – kala tidak ada keinginan, hidup kita seakan tidak bergerak, diam ditempat atau bahkan berjalan lambat. sebenarnya apa yang kita harapkan klau begitu. seketika ada banyak hal yang membuat kita lelah berkelana. tapi ketika kita mendapat bahagia, kita tak serta merta merasakannya.

Semua kadang ilusi. kita hanya ingin terlihat bahagia – cerita di depan banyak orang. tapi nyatanya pengakuan itu tidak benar-benar kita harapkan.

Menjadikan hidup kita apa adanya memang sulit. Dan tak semua orang bisa melakukannya atau menerimanya.

Tapi mungkin, saya harus memulainya – menjadi apa adanya – menjalani hidup yang bisa saya syukuri dan nikmati – saatnya sekarang. TIdak nanti, atau kapan tahu. Jalani apa yang saya suka, tanpa perdulikan apa-apa.

Yuppie

Hello yuppie,

Kadang untuk menyeimbangkan hidup kita memang harus memberi waktu untuk bersantai … sendiri – sepi. Memberi peluang untuk hati kecil kita bertanya : what’s next ? …

Tak perlu dijawab.

Dengan bertanya seperti itu, kita sebenarnya sudah punya jawab atau pilihan untuk hidup kedepan, jalanin aja.

Oh iya, dulu tempat ini sepi juga kok, hanya ada satu tenda ⛺️ dan seseorang yang menyepi *4tahun lalu.. tapi lihat sore ini… deretan tenda terpasang… seru yah!

Untung ada si yuppie, jadi gak kesepian nyantai di pantai. Apakabar si Yolan?