Hello new year’s eve
After,
Entahlah, tahun 2015 ini banyak perubahan ini-itu dalam hidup saya. Tak tahu alasannya, yang pasti tahun ini benar-benar terasa berat untuk saya pribadi. Saya mengingat malam tahun baru 2015 saya sendiri, tak ada seorang pun, di kamar kontrakan. Saya menyendiri – atau lebih tepatnya disendirikan. Karena seseorang yang seharusnya menemani saya pun tak ada disisi saya. 

Hari-hari berlalu, saya masih berusahan sendiri. Saya mulai menjalaninya, mengapai impian demi impian, berusaha meraihnya sendiri. Lelah? Pasti, karena sekali lagi, orang yang saya percaya untuk berbagi pun mulai memikirkan dirinya sendiri. Saya berusahan menerima apa adanya. Saya masih punya tenaga sendiri – walau untuk sendiri. 

Sampai pada impian yang saya harap bisa saya raih, saya tetap merayakan sendiri. Saya masih sendiri – memikirkan apa pun untuk semua yang tengah saya jalani sendiri. 

Mungkin memang harus sendiri, sampai tiba penghujung tahun 2015 ini, keputusan menyendiri saya ambil. Saya tak ingin merepotkan orang – saat sakitpun saya berusaha menyembuhkan diri sendiri. Saya sudah kebal. Imun dalam diri saya bermetamorfosis-mampu beradaptasi dengan cepat. Saya benar sendiri. 
Before,

Sampai pada sebuah revolusi baru di tahun 2016, saya tak cukup banyak waktu memikirkannya. Hidup saya penuh dengan banyak impian baru, namun tenaga saya untuk menyapainya tak sebesar yang dibutuhkan. 

Beban hidup saya bertambah, tantangan sudah tak menarik lagi untuk saya raih. Yah, hidup saya datar, hanya itu yang bisa saya jalani, karena menanjakpun menambah beban, dan menurunpun membuat resiko hidup tak stabil. Jadi, biarlah datar. 

Tujuan hidup saya kedepan hanya ingin melepaskan beban-beban yang ada, saya ingin membuat ringan hidup saya. Hingga saya bisa terbang bebas kembali, kemana saya ingin. 

Kecewakah saya? Tidak. Saya mensyukuri apapun yang tengah saya lalui. Jalan hidup saya sudah di gariskan, saya hanya perlu menjalaninya – dan menyelesaikan. 

Sekalipun saya berpikir sendiri, tapi sebenarnya saya tidaklah sendiri. Doa kedua orang tua disana selalu menemani pastinya. Begitupun pengertian mereka ; sahabat, kerabat dan keluarga – yang selalu mensupport saya, dan menemani dipersinggahan “halte” perjalanan hidup – sampai kapanpun dan dimanapun saya tetap mensyukurinya. 

Begitupun dengan Mikko, seekor kucil nakal yang tahu diri dan suka mengobati kesendirian saya, atau lebih tepatnya kami – kami saling berbagi kesendirian. Kami, yap kami ; saya dan mikko tepatnya ~ We’re not perfect, we’re just happy.
Selamat tahun baru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s