Hello penulis,

  
Lama tak menulis. Tahun ini membuat saya banyak berpikir – tentang hal-hal sepeleh yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan. Belakangan ini saya pun lebih banyak menyendiri, karena bagi saya sendiri adalah ‘me time’ – waktu yang berkualitasn untuk diri pribadi, Saya membutuhkan itu. Membutuhkan sendiri untuk bisa berbagi-mensyukuri-dan ikhlas kepada yang telah dirasa selama ini.

Dari kesendiri saya melahirkan banyak kebahagiaan yang tak saya rasa sebelumnya. Memang berat awalnya sendiri – meninggalkan kerabat, sahabat, keluarga, dan dia yang mungkin tak benar-benar memikirkan saya. Semua akses saya tutup, tidak ada Ping, deting massages, atau kring telephone. Dunia saya seketika sepi nan teduh. Hanya kicau burung dan teriakan ayam dibelakangan rumah, atau bunyi jangkrik yang teriak minta tolong karena dikerja sang kodok dihalaman depan rumah.

Dunia saya mengecil, sejagat raya dulu yang saya miliki, kini menjadi sebatas rumah dua lantai yang baru saya huni beberapa bulan. Lingkup yang membatasi oleh kesunyian dan keterbatasan – saya berjarak dengan sosial yang dulu ada. Dalam dunia baru ini, saya menatanya, mempersiapkan semua, dan merawatnya. Saya tak ingin mempercepat apa pun, agar bisa menikmati setiap detik saat melakukan semua hal di dalamnya. Langkah saya melambat – begitupun tenaga saya. Sendiri semua saya lakukan untuk diri ini.

Terkadang – manusia memang butuh sendiri, same people say ; jika kita bisa menerima kesendirian, bearti hidup kita sudah ditahap kebahagian level tertentu. Saya membenarkan hal itu. Tahu Abraham Maslow (1908-1970), seorang psikolog yang sangat terkenal itu menggambarkan kebahagiaan dalam sebuah piramida kebutuhan yang perlu kita daki sampai puncak. Dan menurutnya orang yang mampu mangaktualisasikan dirinya memiliki ciri-ciri ; percaya diri (bukan sombong/egois) – Mampu menikmati ketenangan (semacam kesendirian) –  Mampu berbagi dengan orang lain – memiliki selera humor yang baik serta kreatif dan unit untuk menjalani kehidupanya. Apakah saya orang yang seperti itu?

Entah sampai kapan saya menemuka waktu untuk kembali  – kerutinitas dengan keramaian dulu. Saat ini saya hanya ingin menikmatinya – bersenang dengan dunia saya yang tak seorang pun mampu memasukinya, walau nyatanya tak perna saya menutup pintu. Semua saya serahkan pada sang waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s